Transfer
factors adalah rantai kecil dari asam amino dan sedikit RNA yang membawa
informasi penting dari sel sistem daya tahan tubuh ke sel sistem daya tahan
tubuh yang lain.
Mereka seperti
nota post-it yang mengantarkan detail terkait dengan
penyakit ke sel di seluruh tubuh. Sel sistem daya tahan tubuh yang sudah ada
dan yang baru mendatangi nota post-it ini, membacanya, dan kemudian
bekerja. Informasinya termasuk
ancaman-ancaman apa yang perlu diwaspadai (bakteri, virus, parasit, atau bahkan
sel kanker), apa yang harus dilakukan terhadap mereka, dan kapan harus berhenti
melakukannya.
Transfer
factors pada awalnya ditemukan pada akhir tahun 1940an oleh peneliti
tuberkolosis bernama Dr. H Sherwood Lawrence. Sementara mencari cara untuk
melindungi manusia dari tuberkolosis, Dr. Lawrence mengambil sel darah putih
dari pasien yang sakit dan menginjeksi bagian dalam sel ke manusia yang sehat.
Hasilnya, orang yang sehat menjadi imun terhadap tuberkolosis! Dr. Lawrence
tidak mengetahui apa persisnya yang memberikan imunitas tersebut sehingga ia
secara sederhana menyebutnya sebagai "Transfer Factor".
Selama
puluhan tahun sejak penemuan Dr.
Lawrence, beberapa peristiwa penting terjadi yang kemudian menyebabkan
ketersediaan Transfer Factors bagi publik:
Pada
tahun 1989, dua peneliti, Dr. Gary Wilson dan Dr. Greg Paddock menyempurnakan
apa yang merupakan proses penyaringan paten untuk ekstraksi Transfer Factors
dari kolostrum sapi. Melalui teknik ekstraksi ini, Transfer Factors murni dapat dikumpulkan
dalam bentuk terkonsentrasi, dikeringkan, dan dibentuk menjadi kapsul untuk
konsumsi manusia.
- Pada tahun 1991, pekerjaan Dr. Sherwood divalidasi.
- Pada tahun 1998, 4Life Research membeli patennya, menambah paten untuk teknik mengekstraksi Transfer Factors dari kuning telur ayam, dan mulai menjual produk mengandung transfer factor ke publik. Produk ini dilindungi oleh Badan US Dietary Supplement Health and Education Act (DSHEA) pada tahun 1994.
- Pada tahun 1999,efektivitas dan keamanan suplemen Transfer Factor divalidasi oleh studi klinikal di seluruh dunia.
Secara
ringkas, Transfer Factors ditemukan pada tahun 1949 ketika seorang peneliti
menggunakan sel darah putih dari manusia yang terinfeksi ke manusia sehat yang
sudah diimunisasi. Namun sekarang kita mampu mengekstraksi Transfer Factor dari kolostrum sapi dan
kuning telur ayam membuatnya menjadi tersedia
bagi konsumsi publik. Bagaimana kita bisa menghubungkan
manusia dengan sapi dan ayam, dan mengapa semua itu dapat bekerja? Ternyata Transfer Factors tidak spesifik bagi manusia
atau spesies tertentu (Non Species Specific), ini berarti transfer factors yang
dihasilkan oleh manusia, sapi, anjing, atau bahkan ayam dapat dipertukarkan.
Mereka seperti arsip komputer ditulis dalam kode dasar, membuatnya mudah dibaca
oleh komputer jenis apapun. Transfer Factors merepresentasikan bahasa universal
yang dapat digunakan untuk mengendalikan secara langsung aktivitas sistem daya
tahan tubuh.
Fakta
bahwa transfer factors dapat diproduksi secara massal dan sekarang tersedia
untuk publik adalah sangat penting. Mungkin satu hal yang lebih penting adalah
kemungkinan bahwa transfer factors dapat dibuat untuk penyakit seperti H5N1
penyebab dari flu burung, sperti yang disarankan oleh Dr. Pizza dan koleganya.
Jika sapi atau ayam diinjeksi dengan virus H5N1, informasi tentang virus akan
termasuk dalam kolostrum atau telur yang diproduksi oleh hewan. Mereka dapat
diambil secara oral dari manusia - tidak perlu ada injeksi - dan dapat, paling
tidak secara teoritis, mencegah pandemi H5N1.
Mau Info Lebih Lengkap Hub ; BB. 76AF676B. HP. 0878 9456 2552 (WA)
FB. Trasfer Factor 4Life Tanjung Pinang

Tidak ada komentar:
Posting Komentar